Fish

Senin, 18 Oktober 2010

NASIONALISME KAUM MUDA INDONESIA

Ketua IKPNI Aisyah Hamid Baidlowi mengatakan bahwa semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan anak muda mulai menurun. Budaya Barat dianggap lebih modern dan melupakan budaya bangsa sendiri. Kemerosotan nilai luhur bangsa terjadi hampir pada semua generasi muda, baik di kota maupun di desa.” Demikian kutipan dari artikel berjudul Semangat Pahlawan untuk Memajukan Bangsa yang dimuat pada harian Kompas tanggal 12 februari 2007.
            Isi dari kutipan di atas boleh dibilang benar adanya walaupun dilihat dari sisi yang lain sebenarnya yang sedang terjadi bukanlah penurunan semangat nasionalisme dan patriotisme, tetapi penurunan jumlah kaum muda yang peka terhadap kesadaran nasionalisme dan patriotisme. Secara tragis, kaum muda yang memiliki kepekaan terhadap kesadaran nasionalisme dan patriotisme telah menjadi kaum termarjinalkan dan minoritas di Republik ini. Ketika komunitas kaum muda ini berkumpul mereka sebenarnya memendam luapan nasionalisme dan patriotisme yang begitu membara. Tetapi ketika mereka kembali ke realita kehidupan sehari-harinya, mereka secara sistematis menjadi kaum yang boleh dibilang aneh.
            Bagaimana tidak aneh, ketika kaum muda kebanyakan mempeributkan soal selebritis yang sedang terkena kasus perceraian ataupun tentang konser grup musik idola atau tentang gaya hidup yang sedang trend, maka kedatangan kaum muda yang membawa topik nasionalisme ataupun isu-isu krusial publik selalu saja dikatakan gak gaul, sok pintar, dan topiknya dikatakan terlalu berat untuk dipikirkan. Ketika kaum muda ini berusaha untuk memupuk semangat nasionalismenya agar tidak luntur, berbagai media yang ada disekitarnya justru memberondong dengan info-info hiburan dan sinetron-sinetron yang bahkan tidak ada urgensitasnya terhadap kemaslahatan publik. Belum lagi desakan ekonomi keluarga yang menuntut kaum muda untuk memperbaiki derajat hidup keluarganya yang merana. Bagaimana mau memikirkan tentang nasionalisme, sedang isi perut untuk hari esok saja masih tak tentu wujudnya. Yang tak kalah tragisnya, kaum muda yang berasal dari kalangan berada juga sudah terlalu sibuk memenuhi tuntutan orang tuanya untuk membantu memikirkan tentang masa depan usaha keluarganya, sehingga tak ada lagi waktu untuk memikirkan tentang bualan-bualan nasionalisme dan patriotisme.
            Ketika kaum tua, kalangan pendidik, dan pemerintah memprihatinkan tentang kesadaran nasionalisme dan patriotisme kaum muda, maka kaum muda kebingungan karena mereka kehilangan figur nasionalis. Tidak ada contoh nyata yang bisa digugu dan ditiru untuk membangkitkan kesadaran nasionalisme dan patriotisme itu. Apa yang bisa ditiru ketika kekayaan tambang dan sumber minyak Indonesia yang begitu berlimpah ruah justru diserahkan kepada pihak asing untuk pengelolaannya dengan alasan bangsa kita belum memiliki teknologi yang memadai untuk mengelolanya? Bagaimana mungkin kesadaran nasionalisme dan patriotisme itu bisa terbentuk ketika pejabat negara yang idealnya adalah pelayan dan penata layanan masyarakat justru sibuk dengan upaya untuk meningkatkan citra diri dan memperkaya dirinya sendiri? Bagaimana bisa berpegang pada nilai-nilai luhur bangsa ketika nilai-nilai chauvinisme justru yang dikedepankan untuk menyingkirkan suatu komunitas kehidupan masyarakat lainnya? Bagaimana bisa menghargai jasa para pahlawan ketika pelajaran Bahasa Indonesia, Sejarah, Pancasila dan Kewarganegaraan di institusi pendidikan hanya dinilai sebagai ilmu sampingan yang nilainya tak lebih berharga dari pada nilai matematika, fisika, kimia, ekonomi, dan akuntansi? Bagaimana model pahlawan nyata pada kehidupan dewasa ini yang bisa ditiru ketika para pemimpin bangsa dan negara ini hanya sibuk mengejar cita-citanya sendiri melalui perjuangan yang culas dan tidak jelas?
            Mengutip pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla dari artikel yang sama, bahwa mereka yang dianugerahi gelar pahlawan oleh negara merupakan orang yang cerdas, inovatif, dan memiliki terobosan dalam mewujudkan cita-citanya, maka untuk menumbuhkan pahlawan-pahlawan muda diperlukan suatu penanaman jiwa intelektual. Sudah waktunya untuk memagari bukan hanya kaum muda tetapi segenap elemen bangsa ini dengan propaganda intelektualisme. Memberdayakan fungsi media sebagai pendidik masyarakat dan bukannya sekedar sebagai penghibur masyarakat dengan hiburan-hiburan picisan dan sarana komersialisme yang hanya membuat masyarakat semakin sesak dililit utang dan terbius dalam candu konsumersialisme. Revitalisasi pelajaran-pelajaran yang mendasar sehingga nilainya tidak dianggap lebih rendah dari pada pelajaran ilmu pasti dan sosial, sekaligus juga perbaikan terhadap tata cara penyampaian pelajaran-pelajaran tersebut sehingga tidak terkesan membosankan. Bukankah penggunaan bahasa yang baik dan benar, pemahaman tentang asas-asas dan landasan negara, serta pengenalan tentang sejarah merupakan cerminan suatu bangsa yang nasionalis? Regenerasi nasional untuk memberikan tanggung jawab dan kepercayaan kepada anak-anak terbaik bangsa untuk mengelola kekayaan alam bangsa dan negara ini. Serta yang terpenting adalah komitmen menghidupi kesadaran nasionalisme dan patriotisme yang konsisten dari para pemimpin bangsa dan negara ini, kaum tua, dan tokoh-tokoh publik sehingga kaum muda mempunyai model jelas yang bisa ditiru.

"You shall know the truth, and the truth shall make you free"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar